Romantisme Sang Mantan

  • Saturday, 12 June 2010
  • Posted by Ivan Rahmadiawan
  • Ngumpul di

Gwen, tadi pagi gue liat di Galm Magazine, cerpen lo dimuat loh untuk edisi minggu ini. Tapi berhubung gue buru – buru jadi belum sempat baca.” Seru Rara yang kebetulan memberhentikan mobilnya di depan rumah.

Gue sendiri kaget dengernya, cerpen perdana gue di muat di majalah Glam ??? Wow, itu kan baru gue kirim seminggu yang lalu, kok cepat banget ?? gak ada konfirmasi sebelumnya pula… “Haahh, paling Rara salah liat penulisnya.”

Rasa penasaran akhirnya lebih bergejolak ketimbang pergi ketoilet karena kebelet pipis. Gue buru – buru mampir ke lapak majalah di depan kompleks rumah dan beli majalah yang dimaksud Rara. Sengaja gak langsung gue baca halama yang memuat tulisan perdana gue, karena takut guenya pingsan dijalan karena terlalu lebay. Sampai di kamar gue mempersiapkan mata sefokus mungkin untuk mencari halaman 78. Ternyata Rara nggakk bohong, Judul cerpen perdana gue tertulis di atas header bergambar mawar merah jambu, “Untuk Kedua Kalinya dan Terakhir” By: Gwen Safira.

Seketika Mata dan mulut gue ngebuka lebar, “Tulisan gue masuk majalah? Ini tulisan gue ??” Teriakkan lantang dari rongga mulut yang terus memberontak. Gue baca lagi cerpen itu, satu demi satu kata gue ejain, memahani lagi apa yang telah gue tulis dengan perasaan yang campur aduk karena merasa belum percaya dengan kejutan ini. Tangan gue kembali menelusuri ke kalimat selanjutnya, sampai gue menemukan paragraph yang paling menyayatkan hati,

"Jus mangga terakhir yang ku teguk di pagi ini. Mata lebamku masih tampak dengan jelas. Sisa – sisa air mata dari pinggir mata kanan – kiri pun masih terasa lembab. Rambut lurusku juga tampak kusut bahkan susah disisir karena semeraut gak jelas. “Ahhh.. hati dan tampilanku satu hati.” Kataku dalam hati, sambil bercermin.

Semalam suntuk aku menangisi sebuah kisah perjalanan yang sangat menyakitkan. Aku sedang mengingat cerita yang gak mudah untuk aku lupain begitu saja. Mungkin bagi orang lain mudah, tapi buat aku ini sulit. Kehilangan sososk Angga itu yang bikin jiwa makin galau dan nggak bisa membedakan lagi mana yang pantas aku tangisi atau nggak. Aku masih terbuai oleh pelukkan hangatnya, harum parfumnya, kasih sayangnya, suaranya. Mungkin ini yang namanya terlau cinta, tapi dialah yang membuat ku seperti ini.

Masih kuingat kemaren malam Angga menjemputku untuk Dinner bareng, kita memilih kedai steak. Sejak dia sibuk bekerja, jarang sekali bisa menyempatkan diri buat makan malam berdua. Tak ada yang berubah selama kita menikmati makan malam, sikap coolnya masih tampak, ucapan sayangnya juga masih aku rasakan, sampai aku menggenggam tangan Angga yang tersandar di meja, mengartikan kalu aku tak ingin ia pergi diri sisiku.

Keluar dari kedai steak Angga menggandeng tanganku dan membukakan pintu mobil buatku. Aku pikir kita akan pergi ke club untuk sekedar sosialita dengan teman yang lain. Tapi nyatanya tidak, Angga mengajak ku pulang kerumah. Sebelum aku turun dari mobil, ia memberikan satu bouquet mawar merah muda. Aku segera mengucapkan kata, “Hmmm.. makasih sayang…” dan mencium pipi kanannya. Ia tak menolak dan segera mengajak ku ke bangku taman di halaman depan rumahku.

Lima detik setelah kita bersama, suasana sangat kaku. Tapi Angga mencoba memulai dengan suara yang terkesan berat.

“Jesscica, mungkin 14 mawar merah muda itu untuk kedua dan terakhir dariku.”

Aku shock dengan pernyataannya, karena sulit untuk ku mencerna maksud perkataannya.

“Kenapa ??” cuma itu yang bisa ku tanyakan.

“Karena, cinta aku ke kamu gak bisa dilanjutkan.”

“Sudah deh Ngga, aku tau kamu bercanda kan ??” aku masih berharap omongan dia hanya lelucon belakang.

“Nggak Jess, ini serius. Mengakhir cinta ku ke kamu bukan berdasarkan bosan, orang ketiga, atau sebuah kesalahan yang ada di antara kita.”

“Lalu apa ??” suara ku mulai meninggi karena mulai terpengaruh emosi.

“Cintaku sudah DATAR” suara Angga tiba – tiba mengecil karena ia berbisik tepat di telingaku.

Yang aku bisa katakana saat itu, “Aku butuh adaptasi agar siap kehilangan kamu dari sisi ku.”

Angga tiba – tiba meremas telapak tanganku dan mengatakan “Aku akan membantu mu menerima kenyataan kalu aku bukanlah lelaki yang kamu harapankan. Aku selalu ada buat kamu.”

Kita berpisah dihalaman rumah, kaki lemas ini aku paksa berjalan menuju kamar di lantai dua dan mulai menangis di balik selimut. Malam yang melarutkan letihku dengan rasa kesal, aneh, dan bingung yang menyelimutiku di pukul 02:00 dini hari."


Gue berhenti menelusuri paragraph ke lima, karena pinggiran mata sudah mulai berair. Disisi otak terselip kembali adegan di cerita ini begitu jelas, lebih jelas dari apa yang gue tulis di cerpen ini. Gue yakin yang membaca cerpen ini juga akan mengasihani si cewek, dan membenci si cowok karena memutuskan hubungan secara tidak logis. Gue gak sanggup untuk melanjutkan cerpen yang gue tulis berdasarkan pengalaman pribadi itu. *ambil tissue*

Satu hal yang gue inget kalu mantan gue pernah bilang, ‘Pria banyak cinta, tapi ketika dia berani berkomintmen, maka ia telah berhasil menemukan satu cinta yang dicari.” Dan cinta yang diincar mantan gue gak ada di ‘Gue’ rupanya, dia tak meyakini kalu gue adalah cinta sejatinya. *hikss… hikss…*

Cerita 14 tangkai mawar merah muda yang gue tulis bener – bener sama dengan cerita pribadi gue sendiri. Dia mengakhiri hubungan percintaan sama dengan halnya ketika ia memulainya. Memeberi mawar yang sama warnanya, walaupun yang terakhir berisi 14 tangkai mawar yang mengartikan kalu 14 bulan lebih 14 hari kita bersama. Sifat romatis seperti itu yang selalu gue kangenin. Cinta emang rumit kalu dipikirkan secara logika, tapi kalu dirasakan pake hati akan berbeda kerumitannya.

Mmmm… menyedihkan menyimpan kenangan terakhir dari sang mantan, walau hanya berupa bouquet mawar yang sudah kering dengan kulit mawar yang menghitam.

Gue coba melanjutkan membaca sisa paragraph terakhir. Cuma senyuman yang bisa tersirat di wajah setelah membaca kalimat ini, “Cinta akan menemukan siapa yang pantas untuk bersama… ” Gue rasa itu benar, walaupun gue bukan orang yang mengerti dengan seberapa besarkah porsi mencintai lelaki.

-selesai-

5 Komentar:

  1. @mbk Fanny, terimakasih mbk....

  1. Mantap ceritanya van, membuat yg baca jd larut dalam alur dan kisahnya

  1. sependapat sama mbak fanny :)

  1. so far so good. keren kok tulisannya ;)