Showing posts with label Cerpen iseng. Show all posts
Showing posts with label Cerpen iseng. Show all posts

Pelangi Di Langit Malam (7)

  • Saturday, 25 September 2010
  • Posted by Ivan Rahmadiawan
  • Ngumpul di

Hoiiiyoo… setelah lama gak nulis kelanjutan Sharon, alhamdulillah, akhirnya bagian (7) selesai dengan hasil yang seperti ini (silahkan di baca sendiri dah). Semoga suka dan tetep mau baca sampai bagian 10nya… *kriukkkk* hehhe

Pokoknya semua misterinya akan terjawab di Blog I Am… !!!

Pelangi Di Langit Malam (7)

Matahari menghangatkan tubuh sang peri kecil di balik selimut tebal, kulihat dimatanya terdapat guratan lelah. Bibir polosnya tampak tersimpul manis bersama guling yang ia peluk. Sharon makin erat mendekap guling dan membenamkan semua rasa letih di bantal empuknya.

Terik sinar mentari pagi dari jendela kamar pun tak ia hiraukan, ia masih kembali menjemput semua mimpi sebelum peri dongeng pergi kelangit dan hilang bersama awan. Kututup kembali pintu kamarnya dengan hati – hati sampai tak menimbulkan bunyi yang dapat membuatnya terbangun.

“Selamat pagi Heidi.” Tegurku dikala ia membuat susu hangat. Tanpa basa – basi aku mengecup pipi kanan-kirinya, karena ia sudah ku anggap ibu sendiri.

“Selamat pagi Rob, aku membuat susu coklat. Apa kamu ingin juga??” tegurnya ketika aku berada disamping kanannya.

“Terimakasih, aku kenyang karena secangkir kopi dan sepotong roti keju.” Balasku dengan memegang pundaknya.

“Kudengar ibunya Sharon mengirim e-mail ?” Tanya Heidi penasaran dengan tangan mengaduk susu hangatnya.

“Iya, ia mengirim beberapaa halaman. Dan itu menandakan ia sudah sadar kalu anak akan butuh sosok Ibu, dan sebaliknya.” Jawabku dengan serius.

“Seperti air yang mengalir dan kembali ke pusarannya. Semoga saja cerita di novel “Mother lovely” akan benar – benar terjadi diakhir cerita ini.” Ujar Heidi dengan suara berharap.

Percakapan pagi bersama Heidi adalah pengganti suasana rumahku tempo dulu. Sebelum mengawali aktifitas selalu aku sempatan untuk ngobrol dimeja makan bersama ibu dan ayah. Dan kini semua terlalu cepat untuk berubah. Pikirku di hari libur seperti ini ada rasa yang tak enak ketika harus memanggil Heidi untuk menemani Sharon di rumah, ini karena aku ada urusaan kantor yang harus diselesaikan dihari libur seperti ini.

^^^

Langkah kaki ku yang tak rela meninggalkan rumah harus kupaksa dengan bayangan muka bossku sendiri. Aku tak tau apa jadinya kalu metting kali aku tak hadir? Mungkin saja pemotongan gaji dan pemecatan tanpa berbasa – basi akan mengantarkanku ke jurang pengangguran.

Menelusuri jalan raya sepagi ini dengan perasaan yang gelisah dan berharap rapat darurat ini segera usai dan mengembalikan rasa rindu ayah menjemput rasa rindu anaknya yang sedang terjaga oleh pengasuhnya.

Dan ketika tiba di kantor, kejutanan pertama yang aku terima adalah, metting ditunda 2 jam kedepan. Aku dan Frans sudah menduga kalu ini bakal terjadi, tapi apa boleh buat nasib karyawan sudah berkodrat di tangan atasan.

“Aku membatalkan liburan akhir pekan bersama putraku dan kamu tau apa terjadi ??” tiba – tiba Frans membuka topik perbincangan para ayah di kedai kopi dekat kantor. Lalu melanjutkan perkataanya dengan nada kesal, “dia membanting pintu kamar tanpa mau tau apa alasan kenapa hari sial ini terjadi.”

“Semoga kamu tau bagaimana mengatasi anak lelakimu Frans.” Jawabku menenangkannya.

“Bagaimana dengan rencanamu hari ini Rob?? Bukannya Sharon lebih penurut ketimbang anak lelakiku??” Tanya Frans yang membandingkan berbedaan mengasuh anak perempuan dan laki – laki.

“Menemaninya ke toko buku. Tapi saat ku tinggal, dia belum tau kalu rencana itu akan berubah menjadi tidak pasti.” Mukaku pun langsung panik kalu saja hari ini gagal menemaninya. “Semoga rayuanku masih berlaku ketika sampai dirumah.” Kataku dalam hati, berharap itu akan terjadi.

Beginilah para ayah mengobrolkan anak – anaknya, tak hanya aku dan Frans yang kesal, tapi ada teman sekontor lainnya yang mengalami hal yang serupa. Kami pun hanya bisa mengambil jurus masing – masing untuk membujuk putra – putri kami memahami apa yang terjadi.

^^^

Tepat pukul 4 sore aku kembali ke rumah dan seketika itu juga udara yang kuhirup telah bercampur aroma hujan dan tanah yang bersatu dan bertemu dengan rintikan hujan yang mulai deras.

Mataku menemukan Sharon dengan lahap menyantap sepiring kecil pudding buah bersama Kevin dan Clara, teman sekolahnya yang kebetulan satu kompleks. Mata Sharon yang mendapati tubuhku, segera membujuk ayahnya untuk duduk bersama di meja makan.

“Ayah, kenapa hari libur seperti ini masih bekerja ??” Tanyanya ketus.

“Bukankah ini yang kebeberapa kalinya ayah seperti ini??” Jawabku mengingat berapa kali aku bekerja di hari libur??.

“Tapi kan janji kita..” dengan cepat aku melanjutkan ocehannya Sharon, “menemani mu ke toko buku!!!!” mimik wajahku aku paksa untuk ceria.

“Tapi hujan dan sudah sore Yahhh…”

“Masih ada waktu untuk kesana kan sayang?? Lihat hujan dan tanah, mereka sering membuat janji, tapi sepertinya janji mereka sering terganjal oleh beberapa musim. Tapi apa mereka marah ketika sesuatu yang terlamabat datangnya untuk mempertemukan mereka lagi??”

“Nggak mungkin bisa aku jawab, karena aku tak tau kapan hujan dan tanah membuat janji.” Jawabnya tegas dan masuk akal menjelaskannya.

Nafasku terhenti beberapa detik manghadapi anak sekritis ini dan kami pun sepakat untuk pergi jam 7 malam bersama Kevin dan Clara. Kami akan melewati malam ini di pusat hiburan kota, dan aku lebih memilih untuk mengikuti kemauan anak – anak ini, karena tak ingin bergulat dengan ocehan meraka yang terkadang membuat orang dewasa tanpa sadar rela meminum racun dari gelas jusnya.

^^^

Hampir semua toko yang menjual segala dunia anak, mereka kunjungin. Pikiranku selama berjalan dari satu toko ke toko lainnya adalah membayangkan nasib kartu kreditku ini yang mungkin akan jebol dalam hitungan menit.

Sharon, apa yang belum kamu dapatkan?? Karena ayah sudah letih mengikuti kalian semua. Hampir semua toko kalian jelajahi. Ayah sudah tidak kuat lagi untuk berjalan.” Omelanku kini terasa bervolume, karena faktor lelah dan usia yang tidak bisa disamakan dengan bocah 9 tahun.

“Ayah bisa cari minum dulu, aku, Kevin, sama Clara akan nyusul ayah.” usulannya didukung oleh dua kawannya.

Selang meninggalkan mereka, aku menikmati kembali green tea yang segar dan ini membuat letih di tumit kaki terasa berkurang. Kulirik jam dilengan kanan dan kuhitung berapa jam sudah aku mengikuti tiga bocah itu untuk mengikuti ritual dunia anak mereka.

Sejam berlalu, tak ada tanda – tanda mereka muncul, tapi dari arah belakang ada yang menutup mataku dengan jari – jari yang kecil. Aku tebak ini bukanlah jari orang dewasa.

“Kejutannnn…” teriak Kevin dari belakang yang diikuti dua kawannya termasuk Sharon.

Aku tertawa geli melihat mereka bertiga membawa cup ice cream masing – masing di tangan. Dan Sharon membawa dua cup ukuran sedang, “Ayah, aku bawakan ice cream ini untukmu. Aku beli dengan uang jajan yang kemaren tak kuhabiskan.” Katanya lantang dan bangga bisa membelikan ice cream untuk ayahnya. “ehm… Clara dan Kevin sih yang tambahin uangnya, karena uang yang kupunya tak cukup.” Sharon melanjutkan ocehannya dan tertawa malu.

Hahaha…. Aku tertawa hampir menyerupai monster, karena mimik muka tiga bocah ini yang lugu.

^^^

Kami lanjut ke rencana berikutnya dan taman kota pilihan mereka.

Aku mendengar obrolan Sharon, Kevin dan Clara mengenai pelangi di langit gelap. Yang aku ingat, itu hanya cerita karangan ibunya Sharon yang rajin menulis cerita singkat untuknya, dan kini aku kembali diingatkan oleh filosofi pelangi itu.

Sharon, tidak mungkin ada pelangi di malam hari.” Kata Kevin dengan memandangi langit malam seluas laut samudra yang tercampur tinta cumi raksasa.

“Iya, tapi sebenarnya pelangi, awan, bintang, bulan dan matahari bersahabat. Mereka bergantian untuk menjaga isi di bumi, memantau semua gerak – gerik manusia.” Kujawab dengan fantasiku sendiri. Kini aku sudah bergabung dengan mereka.

“Paman tau dari mana??” Tanya Clara penasaran.

“Semua orang tau, cuma kalian yang tak pernah mau tau.”

^^^

Sepanjang pulang, mereka masih membahas perkataanku yang ‘cuma kalian yang tak pernah mau tau’ itu. Dan hebatnya semua protes gak setuju dengan ucapanku. Alasan Kevin, pelangi itu ada setiap saat dan aku sering melihatnya. Sedangkan Clara menjawab, Aku tak pernah melihat pelangi di malam hari. Mungkin diantara kalian bisa kontak aku bila itu terjadi. Nah, Sharon hanya menjawab, Aku lebih setuju apa kata ayah, Pelangi di langit malam itu menggambarkan gelapnya malam tidak akan penah menakutkan dengan adanya seseorang yang kita cintai. Ayah dan Ibu.

Aku sendiri membiarkan mereka mengembangkan apa maksud dari topic malam ini. Setiap anak punya imajinasinya sendiri, dan aku tak akan pernah bisa membatasi bagaimana mereka mengolah imajinasi itu menjadi sumber keyakinan mereka.

^^^

Kubiarkan kaki letihku menjadi kompas, menentukan dimana aku harus berada. Ehmm.. “KAMAR” radar yang kuperoleh dari kakiku yang berteriak. Mengambil satu bantal dan menindihnya dengan notebook di pangkuaku, jari – jariku cekatan membuka satu demi satu email yang baru kuterima dari Claire.

“Wow, apa ini ‘Kejutan berikutnya’ ?” Tanya ku kaget.

---------------------------

N.B : ehmm… kalau lagi males koment, jangan takut buat kasih reaksi kamu setelah baca cerita ini yah?? Pilih aja di “Reaksi Pembaca”, biar aku tau semenarik apa cerita ini… Terimakasih :)

Misteri Gerobak Nasi Gosaring

  • Monday, 2 August 2010
  • Posted by Ivan Rahmadiawan
  • Ngumpul di

Disclaimer : Ehm.. salah satu cerpen jayus anak SMA, buatan saya sendiri. Baru jadi sekarang, padahal awal nulis di bulan Februari dan di edit ulang di bulan Agustus… Lamaaa parahhhh bro!!!!

“Misteri Gerobak Nasi Gosaring”

‘Pokoknya tenang aja Ma, Bono janji bakal kasih yang terbaik buat kalian semua..’ ia mengajak sang nyokap keluar kamar!!! Padahal janji itu di buat hanya untuk menenangkan si nyokap yang panik kalu saja anaknya gak naik kelas…

Bono yang terlanjur berucap lalu kembali bersemangat mengerjakan tugas sekolah nan ‘basi’ itu. Bab satu di kerjakan ulang dan di kembangkan kembali jawabanya sesuai kemampuan, tapi celakanyah malah mental ke jawabanya yang makin sulit di jelaskan.

3 Jam melawan rasa malas untuk mengerjakan tugas, akhirnyah ia nyerah dan mengeluh sejadinya: ‘Bosen gue sama nieh tugas, dari kemaren pasti ngadat di jawaban yang kaya gini.’ Sambil merapikan buku tugas yang berkeliaran di meja belajar ia tetap mengomel tanpa ujung. Sekarang Alasan satu untuk tidur ketimbang belajar mulai menggema. Dengan perasaan tak bersalah, segera ia meninggalkan tugas itu.

‘Hoeammmm, ngantuk!! tugas busuk kaya gitu bikin masa muda gue berantakkan aja...’ teriak Bono sambil menggaruk rambut ikalnya.

Dengan mata malas ia bersemangat sekali menuju tempat tidur yang berkhas pulau hawaiii versii ileran.

15 menit terperangkap di gelapnya selimut, Bono segera membebaskan diri dari selimut coklatnya. Maka tampaklah bayangan dirinya di langit – langit kamar, dengan hina ia melirik jam di samping tempat tidurnya yang selalu mengeluarkan suara detak jantung layaknyah ruang operasi (dag dig dug… ). Tampak jelas kalu jarum jam itu sudah menunjukkan pukul 23:50.

Dentingan waktu yang membuat malam begitu tak mengasikkan membuatnya tak punya semangat buat melakukan kegiatan lainnya, selain memeluk guling dan mengigit ujung sarung bantalnya. Prihatin dengan keadan sepi seperti ini, iseng – iseng ia membuka jendela kamar dengan harap – harap cemas, karena mata tajamnya langsung kedapatan melirik anak tetangga di depan rumah yang lagi asik ‘kecup sana - sini sama cowoknya’…

Bono pun gak kuat buat nyeletuk pelan ‘wahh, bener kata mbok kalu cewek depan rumah itu sering banget pulang larut malam… Padahal masih sekolah!!’ karena takut ketahuan oleh mereka, ia pun segera menunduk…. Terbukti sudah jiwa keponya mulai tampak sejak usia dini…

Sekitar 30 menitan, ia buka lagi jendela kaca itu, membawa kertas coretan dan duduk di pinggir jendela yang lumayan lebar… Belum selesai menulis satu paragraph, ia di kejutkan dari ujung jalan dengan bebunyian yang cukup di pertanyakan.

Dari hasil analisa indra pendengarnya, suara itu berasal dari tukang nasi gosaring (goreng sampai kering) yang membunyikan wajanya pake sutil besi… ‘Sudah 3 minggu lebih suara ini jarang terdengar di area kompleks.’ Sahut Bono sambil menengok ke luar jendela.

‘Tengtengteng…. Gosaring ya buuu, tengtenggg gosaring ya pakkk….’

Suara khas penjual itu membuat yang mendengarnya mau pingsan, karena mukul wajan kaya mukul bedugg, padahal gak lagi bulan puasa.. celetukan Bono setiap pedagang itu melewati rumahnya.

Penjual iseng itu makin mendekat ke depan rumah Bono dan sempat melihat keberadaan Bono dari arah jendela kamar atasnya. Mungkin berasa masih ada yang belum tidur penjual itu pun berniat menawarkan menu Nasi goreng sampai kering itu ke Bono. Dengan senyum khas pedagang ia menawarkan dagangannya sambil mengeluarkan jurus bahasa isyarat. Gerakkan tangan si pedagang mulai beraksi, yang bermaksud bertanya “Apa anda ingin memesan nasi goreng?”. Tampak terlihat bodoh mereka berdua. Bono pun hanya membalas dengan menggelengkan kepala dan menaikkan pundaknya. *bayangkan sendiri*

Tanpa akal sehat, Bono langsung ngbacot sendiri, ‘Gila tuh orang jam segini masih aja jualan ? siapa yang beli yah ? satpam kompleks jam segini juga belum pada ngumpul kan?… Tetangga gue juga gak bakal pada makan malam jam segini…’ Bono mulai sok tau terlihat serius mengamati pedagang aneh itu.

Prilaku pedagang itu makin aneh di mata Bono, dia sendiri nggak ngerti apa maksudnya, sampai ia tersadar akan cerita dari si Mbok, kalu di pedagang nasi gosaring yang sering lewat kompleksnya, 2 hari lalu meninggal ketiban grobaknya sendiri saat mangkal di tempat yang dilarang untuk berdagang. Sialnya lagi, sebelum ajal menjemput dia masih sempat di kejar satpol PP dan akhirnya tewas di tempat. Gerobak nyah jomplang dan ketimpa dia sendiri, wajan besar panas itu nimpuk ke muka pedagang itu dan pegangan sutil besinya nyangkut di tenggorokkan… ‘Argghhh, cerita dari si mbok bikin otak gue mules, mencret dan kembung’ Bisa kebayang otak Bono hanya selevel itu saja.

Bono yang penakut dengan hal – hal gaib, langsung seketika menutup jendela kamarnya dan sekilat mungkin terjun bebas menuju landasan kasur empuknya. ‘Anjrit, gue yakin ituh arwahnyah? mampus tadi gue sempat di plototin ama tuh orang.’ Kesal bono di balik selimut coklatnya.

2 jam berlalu dengan cepat, suara kuali nasi goring hilang, tapi bayangan pedagang itu masih melekat jelas. Semalam suntuk Bono mikirin kisah sedih nya di malam jumat, apa yang dirasa saat itu bukan lah mimpi, tapi kenyataan yang sangat memilukan. Dalam gelap ia berhening menatap langit – langit kamarnya, tak bercahaya tak berupa, hanya sunyi yang menggelitik kalbu menambah rasa mistis yang mencengkam. Jam disebelah kanan ranjangnya menunjukkan pukul 3 pagi tapi mata Bono masih kedap kedip.… Gak henti – hentinya dia lirik kanan kiri, atas bawah, ia cemas kalu saja bayangan pedagang nasi gosaring muncul tak terduga di kolong ranjang atau di balik pintu kamar mandi…

Fantasi yang super ngaco pun terus memenuhi isi otaknya….

Sekarang dia masih merasa pedagang itu masih berkeliaran di sudut kamarnya. Suaranya, tatapan matanya, grobaknya, wajanya, sampai suara sutil besinyah masih berasa….!!! ‘Arghhhhhhhhhhhhhh……,,’ teriak Bono karena kesal.

******

PAGI HARI, 06:15 saat ayam mulai mencari makan. Hari mulai pagi, Bono pun cuma ngecap – ngecap bibir sambil turun tangga dengan muka kusam dan kehausan… Dari arah dapur si Mbok menyapa dan terlihat terburu – buru memeberikan informasi.

‘Den, satpam baru di kompleks kita baru aja meninggal di depan rumah…’ seru si Mbok dengan suara gemetar.

Wajah ngantuk berubah menjadi wajah shock. Ia langsung meluncur ke TKP dengan selembar Boxer dan baju oblong, muka jeleknya segera berubah menjadi muka alien, lebih ancur dan aneh dari alien yang ada di film District 9…

Karena yang Bono lihat adalah :

“Satpam kompleks tewas dengan kondisi terlungkup di atas wajan besar dengan sutil besi menancap di perut”

^^^

“Tuh kan bener dugaan gue, arwah pedagang nasi gosaring itu masih belum tenang di alam baka dan dia akan terus menteror warga.” Keluhnya ke teman sekelas yang sudah pada rame ngepung Bono untuk mendengarkan kejadian mistis yang sangat fenomenal dikompleks rumahnya.

P.S : Setan dan iblis paling juara merubah wujudnya menjadi sosok manusia yang selalu dikira orang awam “arwah penasaran”. Padahal seseorang yang sudah meninggal tidak mungkin bisa kembali ke dunia nyata dalam bentuk apapun… Benar, cerita ini sangat fiksi, hanya khayalan sang penulis yang kelewatan!!!!

Kejutan Berupa E-mail (6)

  • Thursday, 29 July 2010
  • Posted by Ivan Rahmadiawan
  • Ngumpul di

“Ayah, lihatlah buku tahunanku…!!” seru Sharon ketika aku sedang menyiapkan makan malam.

“Wow, sudah jadi yah?? Terlihat keren covernya…”

Kedua mataku terbelalak melihat halaman pertama buku tahunan putriku yang masih duduk di kelas 4. Penuh dengan Testi dari teman sekelas Sharon dan beberapa daftar kegiatan sosial mereka. Sangat terencana dengan sempurna untuk sebuah buku tahunan yang isinya kegiatan sekolah anak - anak berumur 9 tahun…

Sebenarnya ketika Sharon masih di duduk di kelas 2 dia juga sudah membawa pulang buku tahunan pertamanya, karena sekolahnya memberikan fasilitas yang cukup beragam jadi setiap 2 tahun sekali para siswa akan berganti kelas, materi baru dengan bonus ‘Buku Tahunan’ yang sebenarnya seperti laporan siswa yang hanya dikemas lebih kreatif saja. Tapi berhubung dia masih kecil dia tak terlalu excited seperti tahun ini. Kali ini ia tau akan (hanya) berpisah kelas untuk mengikuti materi berikut dan ini akan membuat Sharon memiliki banyak teman baru. Selain itu, ia akan segera mengumpulakan pengalaman baru bersama guru pembimbingnya.

Di sisi lain aku senang rasa melihat anak ku bisa aktif di kegiatan sekolah seperti ini, terlihat jelas dia sudah mengikuti semua program yang di ajukan oleh mentor kelasnya dengan sebaik mungkin. Dan hadiah berupa buku tahunan ini bisa jadi raport berharga buatnya.

“Iyaa dongg…” Balasnya bangga.

^^^

Segelas tea yang dicampur dengan irisan raspberry dan jus apel ini pengganti red wine ku, resep yang kuperoleh dari teman dan sampai sekarang telah berhasil membuatku addicted. Menu utama yang ku buat hanya salad sayur dan sepotong daging yang di grill dengan butter dan dipadukan dengan saus mushrooms. Tapi diakhir makan malam Sharon bertanya,

“Yah, tak ada kah makanan penutup kali ini ??”

Sengaja aku tidak membuat hidangan manis karena sudah terlalu repot untuk membagi waktu. Tapi seingatku ada sekotak icecream yang bisa disajikan buatnya… “Coba kamu lihat di freezers, bukankah ayah membelikanmu sekotak ice cream.”

Dengan semangat ia membuka kulkas dan mengambil kotak ice cream berukuran jumbo. Dan membawanya ke meja makan, ia juga membawa gelas dan sendok untuk menikmati hidangan tersebut.

“Ayah, apa ini ice cream milikmu ???” tanyanya ketus dengan wajah cemberut.

Aku yang tak tau apa maksudnya hanya menjawab “Bukan, itu ice cream buat mu sayang.”

“Lihat ini !!!” ia membawakan penutup kotak ice cream ke hadapanku.

“Hahh.. Icecream coffee with choco chips?” ucapku kaget ketika membaca label kotaknya.

“Aku tak suka kopi Yah, pasti ayah salah ambil kan ???”

Kuakui kalu kejadian itu terjadi ketika sepulangnya aku dari kantor dan dipikiranku masih terpengaruh harumnya aroma biji kopi, sampai tanpa sadar tangan ku membawa pulang kotak icecream itu.

“Rupanya ayah salah ambil, sudahlah nikmati saja wafermu yang masih tersisa.” Aku menyuruhnya untuk melupakan hidangan penutup super lezat yang dia bayangkan.

^^^

Penerangan di rumah type 24 ini pun meredup, Sharon sudah merebahkan diri di kasurnya dan aku kembali berjuang menyelesaikan satu pekerjaan kantor untuk rapat esok hari. Tanpa secangkir kopi karena belakangn ini aku butuh istirahat yang cukup, kopi bukan pemecah masalah yang baik. Aku hanya butuh tidur cukup tanpa harus bekerja selarut ini.

Sorot mataku masih fokus di layar notebook dan jari - jariku juga masih setia mengetikkan sebagian tugas kantor. Disela otak mengasah untuk mengerjakan tugas, aku kembali berpikir masa depan. Masa depan untuk Sharon dan diriku sendiri. Cukupkah aku bahagia dengan status single perent seperti ini ?? Walaupun aku belum resmi bercerai, mungkin lebih tepatnya pisah ranjang ???

Keluarga bukanlah satu tapi ‘bersama’ yang berisi lebih dari 2 orang, suami dan istri hidup bersama anaknya. Sharon hanya punya satu dan itu tidak adil. Tiap kali ia sakit, tak ada belaian wanita selain bibi Heidi atau ketika berlibur tak ada canda tawa wanita yang menghiburnya di sela perjalanan. Itulah yang membuatku selalu merasa bersalah dan terus bersalah kenapa ini terjadi kepada Sharon? Dia tak ada dosa untuk menanggung semua beban dan rasa pahit semacam ini. Keputusan Ibunya meninggalkan kita berdua yang tidak pernah kumengerti apa yang ada di pikiran wanita itu.

Mengingat Ibunya Sharon, seketika itu juga aku menyempatkan untuk menelponnya dan menyuruhnya kembali demi Sharon, setidaknya menjelaskan situasi yang terjadi. Tapi sangat sulit untuk menyakinkan dia kembali, mengingat pekerjaannya sebagai orang kepercayaan perancang busana asal Prancis. Menjadi designer adalah target hidupnya, dan aku sulit untuk mengendalikan target tersebut.

^^^

4 minggu kemudian,

Sehabis makan siang, e-mail ku dipenuhi artikel yang ditulis ibunya Sharon. Sekitar 10 halaman ia tulis dan aku belum sempat membacanya. Tapi ujung mataku berusaha menahan air mata ketika membaca tulisan pertama yang bercerita tentang pertama kali ia memeberi ASI ke Sharon, mengganti popoknya, dan kisah baby blues yang sering dia rasakan. Aku mengingat semua kejadian itu dengan rasa teramat rindu. Wanita yang masih kucintai yang memberikan putri kecil sejenius Sharon adalah hadiah buatku. Walaupun hadiah itu harus ditukar dengan masalah seperti ini.

Seharian aku membaca kesepuluh halaman e-mail itu dan membalasnya dengan kalimat yang singkat karena canggung. Aku belum siap untuk menyerahkan tulisan ini ke Sharon karena aku tidak tau harus memulainya.

Dan e-mail terakhir darinya menyuruh ku sesegera mungkin untuk menyerahkan tulisan itu ke Sharon. Aku pun tak bisa menunda lagi dan segera merencankan penyerahan artikel itu ketika kita makan malam bersama.

“Sayang, mungkin setelah kamu membaca ini, kamu akan tau maksud dan tujuan Ibu mu yang sebenarnya. Semua kisah dan perjalannya sudah dia tulis buat kamu. Ayah mohon kamu bisa menahan rasa emosi yang mungkin akan membuatmu marah.”

“…….” Sharon menatapku bingung dan kubiarkan dia duduk di sofa ruang tamu.

^^^

Pagi menyambutku dengan rasa ingin tau apa reaksi Sharon dengan tulisan Ibunya itu. Marah, terharu atau ingin sekali mengamuk, karena dia di jadikan korban keegoisan seorang wanita yang salah mengambil tindakkan.

Kubuka pintu kamarnya dan ku mengintipnya dibalik selimut tebalnya. Suhu ruangn yang dingin membuatku segera mematikan pendingin ruangan dan membuka jendela kamar. Terdengar helaian nafas yang berat, saat kuberbalik badan kudapati mata birunya lembab.

“Kapan aku bisa bertemu Ibu Yah ??” tanyanya sesaatku mendekatinya.

“Sabar sayang, Ibu sedang menemukan satu hal yang paling berharga dalam hidupnya.”

“Dan itu bukan kita kan ??”

“Setiap manusia akan merindukan mimpinya terwujud dan kini Ibumu berhasil menemukannya. Walau jalannya salah.”

“Tak apa Yah, darah ibu mengalir bersama waktu dan aku selalu merasa dia selalu ada di sampingku layaknya kasih sayang ayah kepadaku.” Jawabnya seolah mengerti dengan keadaan yang terjadi.


Keajaiban Dari Negeri Agnezious

  • Thursday, 1 July 2010
  • Posted by Ivan Rahmadiawan
  • Ngumpul di

Sang Angsa berbulu putih lelah karena seharian terus berlatih menari, maka ia segera mendaratkan leher belakangnya di tumpukkan jerami. Dia terlihat tersenyum manis sebelum matanya terpejam rapat. Ini disebabkan sang idola dari negeri ‘Agnezious’ akan merayakan ulang tahunnya, dan si Angsa mendapatkan undangan untuk bisa berpesta dengan sang Putri Anye.

Tawa kecilnya pun masih tampak jelas di menit 30 terakhir sebelum ia mengakhiri mimpi indahnya. Mugkin juga dia sudah tak sabar menanti waktu berpest. Hihi…

Tepat pukul 7 pagi dia terlihat bersemangat melebarkan sayap putihnya untuk menyegarkan persendian yang hampir 8 jam terbaring di jeraminya. Kini tawa dan gerakkan tubuh si Angsa tampak seperti balerina yang sudah pandai menjinjitkan tumit dan mengangkat tangannya untuk berputar. Lagi – lagi ia masih menyempatkan diri untuk berlatih. "Ohh, si Angsa tak ingin tampil buruk di hadapan Putri Anye."

"Putri Anye, terimakasih untuk undangannya. Saya sangat bahagia sekali mendapatkan kesempatan ini." Ucapnya di depan cermin sembari berlatih memberikan senyum manis ke Putri.

^^^

Di depan istana, si Angsa tampak anggun dengan bulu putihnya, dan batu permata yang menggelantung di lehernya. Kalung itu warisan Ibunya dan sekarang tampak cantik dipakai oleh si Angsa. Matanya takjub ketika memandangi kemewahan istana, malah membuat mulutnya kaku sejenak di hadapan pengawal yang menjaga ketat di pintu masuk.

“Permisi, silahkan tunjukkan undangan anda.” Sapa pengawal berbadan tegap.

“Ehmm.. ini undangan yang saya dapat dan undangan itu bertabur serbuk Emas”. Jawabnya kalem dan bangga.

Pintu untuk menuju ruang pesta pun dibuka sang pengawal, dengan hati riang gembira, segera ia melangkahkan jari – jari kakinya menuju ruang pesta. Si Angsa mulai menelusurui lantai marmer dengan pilar berwarna emas, tak luput matanya untuk terus mencari dimanakah dia harus berkumpul dan dalam hati ia terus bertanya “Dimana Putri Anye sekarang??”.

Dalam kebingungan ia bertemu dengan si Merak, “Hei, kamu kumpul disini saja..” ajak Merak yang ada di sampingnya.

“Hmm, terimaksih… kamu baik sekali” Jawab si Angsa singkat.

15 menit telah berlalu dan si Putri Anye mulai tampak dari sisi kanan ruangan yang tertutup dengan tirai sutra. Ia menggunakan pakaian bertabur kristal lengkap dengan mahkota kebanggaan sang Putri. Semua undangan tampak menyambutnya dengan berdiri sambil memberi senyuman manis ke Putri Anye yang tampil cantik luar biasa.

Selain Sang Raja dan Ratu yang hadir, tampak juga Pangeran yang diisukan akan mempersunting Putri Anye. Dia bernama Keanan, Putra Raja dari Negeri sebrang.

Sang Angsa tampak tak bisa melepaskan pandangannya ke singgasana sang Putri. Dia selalu berharap bisa bertatap muka secara langsung. Tapi khayalannya segera ditepisnya dan kali ini ia lebih memilih menikmati hidangan makan malam terlezat yang pernah ia makan. Tapi tetap saja ia mencuri pandang ke Putri dan Pangeran yang terlihat berbincang mesra, “Mereka sangat serasi sekali, Kecantikkan dan Ketampanannya membuatku sangat ingin berjabat tangan dengan mereka.” tak berhentinya si Angsa mengajak berbicara pada dirinya sendiri.

Dari pengeras suara, Sang putri Anye menyambut para tetamu yang sudah berkenan hadir di pestanya.

“Terimaksih buat waktu dan cintanya pada Putri. Untuk membalas kebaikkan kalian, silahkan menikmati hidangan terlezat dan terbaik yang dimiliki oleh koki kami. Satu hal lagi, Putri ingin sekali berjumpa dengan salah satu tetamu yang sudah berhasil mendapatkan undangan bertabur “Serbuk Emas”….” Sang Putri Anye masih tampak berbicara di pengeras suara.

Sedangkan si Angsa hanya fokus mendengarkan suara merdu si Putri dan tampak tak menghiraukan isi dari pembicaraannya, sampai sang pengawal istana menghampirinya dan bertanya.

“Permisi, Anda yang tadi mendapatkan undangan bertabur “Serbuk Emas”. Anda dipersilahkan untuk bertemu dengan Putri Anye secara langsung…” ujar pengawal yang tadi sudah membukakan pintu untuknya.

“Hahh… benarkah itu ???” tanya Angsa tak percaya.

“Iya, anda sudah di tunggu Putri Anye untuk bisa bertatap muka dengannya.”

Para dayang sang Putri pun menjemput si Angsa yang tampak cantik sekali. Untaian kalung pemberian Ibunya pun berhasil memukau para undangan. Setiap tersorot lampu gantung berkristal di atas langit – langit istana, permata sang Angsa tampak lebih bersinar melebihi kilauan perhiasan dari bangsawan kaya raya.

“Hai, salam sayang buat kamu.” Ujar sang Putri menyapa si Angsa.

“Hai Putri…” Sapa Angsa dengan mimik kaku.

Setelah berbincang intim dengan keluarga sang Putri, dimenit terakhirnya si Angsa tampak turun kelantai dansa dan menari bersama Putri Anye. Ia mempersembahkan tarian khusus buat sang Putri. Lentur tubuh, lincah kaki, dan gerakan berputar sungguh menyihir seluruh tamu undangan. Sinar biru yang ada di lehernya membuat tubuhnya seperti berbalut sinar kristal yang sangat indah. Batu permatanya pun menjadi topik pembicaraan para tamu yang sedang menikmati pesta dansa.

Sampai digerakkan terakhir sang Angsa melebarkan sayapnya dan menundukkan kepala ke Putri Anye sebagai rasa hormat. Jari – jarinya cekatan membuka pengait kalung di lehernya dan segera memberikan untaian kalung berbatu permata ke Putri Anye.

Tepuk tangan dan sorak gembira pun mulai membongkar semua rasa sunyi di sepuluh detik sebelumnya. Semua kembali berpesta dan menikmati alunan musik klasik.

Si Angsa dan Putri Anye, memisakkan diri dari tamu undangan yang lagi asik berdansa, kini mereka berdiri tepat di tepi meja makan.

“Terimaksih untuk hadiahmu Angsa putih. Tak seharusnya kamu memberikan ini padaku. Tapi sebagai ungkapan rasa bahagiaku, kuberikan juga mahkota kebangganku untuk mu…” ujar sang Putri.

“Tak apa Putri Anye, walau ku tau kalung itu sangat berharga bagiku, tapi tak ada lagi yang lebih pantas untuk kuberikan kepadamu. Itu pemberian Ibuku..” jawab sang Angsa malu - malu.

Beberapa detik kemudian, tepatnya ketika kalung sang Angsa berpindah ke leher jenjang sang Putri Anye dan ketika Mahkota sang Putri berpindah ke kepala sang Angsa. Tampak cahaya kebiruan yang keluar dari batu kristal yang terangkai rapi di pinggir mahkota memberikan sinarnya.

Seperti ribuan bintang turun dari langit yang menyelimuti tubuh sang Angsa. Kilauan cahaya terang itu terus memutari tubuh mungil si Angsa, sampai tanpa sadar ia sudah berubah menjadi gadis manis yang cantik seperti Putri Raja. Semua mata tertuju padanya. Gaun mewah layaknya Cinderella sangat anggun membalut tubuh jenjangnya, dan untaian rambut panjang tampak begitu indah terurai.

Sang Angsa yang sudah menjelma menjadi seorang Putri pun dinobatkan untuk menjadi adik angkat Putri Anye… Keajaiban dari Negeri Agnezious telah berhasil menghentikan Kutukan dari Dewa Nic yang sudah bertindak jahat ke keluarga Angsa putih. Kini nama sang Angsa putih itu pun berubah menjadi “Putri Theresia”…

-s e l e s a i-

p.s : Cerpen ini kupersembahkan ke Sahabatku tersayang, “Theresia Kartika” !!! Dia baru saja lulus sidang skripsi. Semoga hadiah mini ini ‘pantas’ untuk mu. #GBU :)

Fettucine dan Bingkisan Coklat (5)

  • Wednesday, 23 June 2010
  • Posted by Ivan Rahmadiawan
  • Ngumpul di

Seminggu lebih aku meninggalkan Sharon di kediaman bibi Heidi. Pengasuhnya. Karena aku harus keluar kota untuk mengejar beberapa hot issue di beberapa perusahaan. Selama aku pergi untuk bertugas, sedikit ada rasa senang karena melepaskan atribut Ayah selama 7 hari. Aku merasa kembali lajang, mengunjungi tempat hiburan malam bersama rekan kerja sampai sempat terpikir untuk menggoda beberapa wanita di kawasan Red Light District. Tapi sistem rel ku yang sedikit tergeser membuatku tak berani berbuat lebih, aku hanya minum di bar dan mengerjakan beberapa dokumen secara brutal karena tak ingin banyak bergadang sampai pagi. Aku merasa Sharon selalu berbisik “Ayah Begadang lagi??” kalimat itu selalu membekas sampai di kamar hotel.

Dan dihari terakhir aku mengumpulkan semua dokumen penting yang aku selesaikan di Amsterdam. Pagi hari aku sudah bergegas untuk pulang dengan membawa setumpuk oleh – oleh buat Sharon. Dan beberapa pesanan khusus dari teman kantor. Hmm.. Entah kenapa kali ini aku ingin sekali membawakan Bibi Heidi satu bouquet bunga yang aku sempatkan pesan di toko langganan teman di kawasan shopping street, Bloemenmarkt ???

Ketika sampai rumah, aku menjemput Sharon di rumah Pengasuhnya. Oleh – oleh buat bibi Heidi pun disambut dengan senyum hangatnya. “Thank’s Rob, aku jadi teringat dengan masa muda tinggal di Amserdam”. Ucap Heidi. Percakapan Nostalgia selama 15 menit, membuat Sharon Iri dan menyeret tanganku untuk segera pulang.

Rasa lelahku terbayar dengan suara manja sharon yang selama sepekan tak ku dengar. Ia mulai cerewet dan selalu mencari perhatianku. Hanya yang ku perhatikan dia tampak chubby di bagian pipi, “Sayang, lihat pipimu!!” seruku sambil mengajaknya untuk mencuci muka.

“Kenapa Yah???” tanyanya sambil bercermin.

“Gendut. Mirip Badut.” Ejek ku sambil mengambil pasta gigi.

Seketika kedua pipinya menggelembung karena kesal aku berkata seperti itu.

***
Lebih awal aku bangun, membuatkan segelas susu dengan sereal gandum buat sarapan bersama. Tapi rupanya seleranya sudah berbeda, ia sudah tak suka dengan sereal gandum, kutanya kenapa, dia malah menjawab “Fettucine Yah…”

Sepekan tak bertemu, Sharon mulai menunjukkan perubahan di selera makannya. Tak biasanya ia ingin makan pasta di pagi hari dengan daging yang ditumis dengan irisan tomat segar dan ditaburi keju parmesan. Jelas ini membuatku kaget, karena persediaan bahan di kulkas sudah habis dari sepekan yang lalu. Aku menyarankan untuk memakan sereal itu dulu, biar siang ku sempatkan mampir ke supermarket.

“OK, Tapi Ayah harus janji menjemputku di sekolah. Aku harus ikut Ayah belanja bahan membuat Fettucine !!!” Suaranya bak preman walaupun tangan kanan terlihat sibuk melahap semangkuk serial gandumnya.

“Baiklah, Ayah akan jemput kamu di jam pulang sekolah” suaraku mulai melemas karena melihat anak perempuan seegois ini.

Bis sekolah sudah mengantar Sharon ke sekolah beberapa jam yang lalu, kini aku hanya sendiri di rumah menikmati segelas espresso tanpa krim dari coffemaker baruku. Rumah masih tampak rapi, kamar, dapur, ruang tamu, kamar mandi, pun masih tampak bersih seperti biasanya. Dan kulanjutkan bersantai diruang tv dengan membaca koran lokal yang kuharapkan bisa membuat penatku sedikit menghilang.

***
Sesampai di supermaket, Sharon tampak lebih semangat mengambil keranjang dorongnya. Kubiarkan dia memilih apa yang dia mau, karena aku hanya mengambil barang yang sudah terdaftarkan sebelumnya.

Saat berdiri di rak minuman segar, aku melihat Sharon sudah ada di rak makanan ringan, kulihat keranjanganya, ia memasukkan banyak coklat dan snack yang sudah melebihi apa yang biasanya dia beli.

“Loh, kamu mau nyimpan makanan ini untuk berapa bulan?? Ayah tidak akan membayar snack sebanyak ini !!!”

Sharon tampak kecewa karena aku sedikit membentaknya.

“Kok diam ?? lebih baik kamu pilih snack untuk beberapa hari kedepan.”

Dia mendekatiku dan mengangkat kepalanya untuk menatap mataku. Dan aku memilih untuk berjongkok, agar dia nyaman untuk menjelaskan apa maksudnya.

“Ayah, aku hanya ingin menyumbangkan makanan ringan ini ke wanita tua yang aku kenal. Ia tinggal dipanti jompo. Ini mengingatkanku pada Oma Jesse.”

Hufff… drama apa lagi yang dia buat?, sempat aku bertanya seperti itu di dalam hati.

“Baiklah, wanita tua itu siapa ?? Dia tinggal dimana sayang??” Dia membuatku bingung.

“Ayah tau kan beberapa jarak dari sekolahku ada panti jompo??” sorot matanya sangatlah lugu.
“Iya, Ayah tau. Tapi apa perawat mengizinkan mereka keluar dan mengunjungi sekolahmu?? Sampai kamu kenal mereka?” aku balik bertanya dan terkesan tak percaya dengan ceritanya.

“Tiga hari yang lalu wali kelas mengajak kami untuk berkunjung ke sana Ayah… Aku bisa merasakan mereka hidup tanpa biskuit dan coklat..”

Sharon pikir, orang – orang lanjut usia bisa di sama ratakan dengan seleranya… Di lorong rak makanan itu kita berdebat panjang lebar membahas bingkisan yang pas untuk ‘teman’ baru putri kecilku ini. Yah, aku akhirnya mempercayai cerita wanita tua itu. Aku yakin Sharon tidak berbohong!!

****
Bingkisan berisi snack berbahan dasar gandum dengan topping coklat sudah dibungkus rapi, Sharon langsung memberikannya tanpa mau makan siang terlebih dahulu. Seingatku ia sudah sangat menginginkan pasta Fettucine, tapi entah kenapa dia berubah pikiran secepat ini. Malah Ia tidak ragu untuk bertanya, “Suka apa tidak bingkisan yang aku bawa??” ke beberapa wanita lansia yang mengingatkan ku ke Ibu sendiri. Sharon tampak senang dengan kegiatan membagikan ‘Bingkisan’ke teman barunya.

Aku juga sempat mendengar perkataan yang lain, dengan mimik lugunya Sharon berucap “Oma ini biskuit gandum yang renyah, dengan selai coklat. Pasti bikin mau lagi kan??” candaannya sudah akrab sekali, dan di luar ruangan aku kembali tersenyum simpul melihat Sharon mencoba membantu membuka penutup pudding ke wanita di sampingnya yang hanya bisa bersandar lemas.

“Hmm.. Aku masih memikirkan hal yang ‘baru’ saja terjadi. Hari ini Sharon belajar untuk berbagi ‘Kasih Sayang’ dan ia lebih peka dibandingkan Ayahnya sendiri.” Batinku berucap haru sepanjang perjalanan pulang.

=======
P.S: ketika aku menulis ending cerita ini, aku masih memikirkan Wanita Tuaku (nenek) yang sudah tiada. "Apa kabar mu Nek?? Cucu mu kangen niehhh" :)

Romantisme Sang Mantan

  • Saturday, 12 June 2010
  • Posted by Ivan Rahmadiawan
  • Ngumpul di

Gwen, tadi pagi gue liat di Galm Magazine, cerpen lo dimuat loh untuk edisi minggu ini. Tapi berhubung gue buru – buru jadi belum sempat baca.” Seru Rara yang kebetulan memberhentikan mobilnya di depan rumah.

Gue sendiri kaget dengernya, cerpen perdana gue di muat di majalah Glam ??? Wow, itu kan baru gue kirim seminggu yang lalu, kok cepat banget ?? gak ada konfirmasi sebelumnya pula… “Haahh, paling Rara salah liat penulisnya.”

Rasa penasaran akhirnya lebih bergejolak ketimbang pergi ketoilet karena kebelet pipis. Gue buru – buru mampir ke lapak majalah di depan kompleks rumah dan beli majalah yang dimaksud Rara. Sengaja gak langsung gue baca halama yang memuat tulisan perdana gue, karena takut guenya pingsan dijalan karena terlalu lebay. Sampai di kamar gue mempersiapkan mata sefokus mungkin untuk mencari halaman 78. Ternyata Rara nggakk bohong, Judul cerpen perdana gue tertulis di atas header bergambar mawar merah jambu, “Untuk Kedua Kalinya dan Terakhir” By: Gwen Safira.

Seketika Mata dan mulut gue ngebuka lebar, “Tulisan gue masuk majalah? Ini tulisan gue ??” Teriakkan lantang dari rongga mulut yang terus memberontak. Gue baca lagi cerpen itu, satu demi satu kata gue ejain, memahani lagi apa yang telah gue tulis dengan perasaan yang campur aduk karena merasa belum percaya dengan kejutan ini. Tangan gue kembali menelusuri ke kalimat selanjutnya, sampai gue menemukan paragraph yang paling menyayatkan hati,

"Jus mangga terakhir yang ku teguk di pagi ini. Mata lebamku masih tampak dengan jelas. Sisa – sisa air mata dari pinggir mata kanan – kiri pun masih terasa lembab. Rambut lurusku juga tampak kusut bahkan susah disisir karena semeraut gak jelas. “Ahhh.. hati dan tampilanku satu hati.” Kataku dalam hati, sambil bercermin.

Semalam suntuk aku menangisi sebuah kisah perjalanan yang sangat menyakitkan. Aku sedang mengingat cerita yang gak mudah untuk aku lupain begitu saja. Mungkin bagi orang lain mudah, tapi buat aku ini sulit. Kehilangan sososk Angga itu yang bikin jiwa makin galau dan nggak bisa membedakan lagi mana yang pantas aku tangisi atau nggak. Aku masih terbuai oleh pelukkan hangatnya, harum parfumnya, kasih sayangnya, suaranya. Mungkin ini yang namanya terlau cinta, tapi dialah yang membuat ku seperti ini.

Masih kuingat kemaren malam Angga menjemputku untuk Dinner bareng, kita memilih kedai steak. Sejak dia sibuk bekerja, jarang sekali bisa menyempatkan diri buat makan malam berdua. Tak ada yang berubah selama kita menikmati makan malam, sikap coolnya masih tampak, ucapan sayangnya juga masih aku rasakan, sampai aku menggenggam tangan Angga yang tersandar di meja, mengartikan kalu aku tak ingin ia pergi diri sisiku.

Keluar dari kedai steak Angga menggandeng tanganku dan membukakan pintu mobil buatku. Aku pikir kita akan pergi ke club untuk sekedar sosialita dengan teman yang lain. Tapi nyatanya tidak, Angga mengajak ku pulang kerumah. Sebelum aku turun dari mobil, ia memberikan satu bouquet mawar merah muda. Aku segera mengucapkan kata, “Hmmm.. makasih sayang…” dan mencium pipi kanannya. Ia tak menolak dan segera mengajak ku ke bangku taman di halaman depan rumahku.

Lima detik setelah kita bersama, suasana sangat kaku. Tapi Angga mencoba memulai dengan suara yang terkesan berat.

“Jesscica, mungkin 14 mawar merah muda itu untuk kedua dan terakhir dariku.”

Aku shock dengan pernyataannya, karena sulit untuk ku mencerna maksud perkataannya.

“Kenapa ??” cuma itu yang bisa ku tanyakan.

“Karena, cinta aku ke kamu gak bisa dilanjutkan.”

“Sudah deh Ngga, aku tau kamu bercanda kan ??” aku masih berharap omongan dia hanya lelucon belakang.

“Nggak Jess, ini serius. Mengakhir cinta ku ke kamu bukan berdasarkan bosan, orang ketiga, atau sebuah kesalahan yang ada di antara kita.”

“Lalu apa ??” suara ku mulai meninggi karena mulai terpengaruh emosi.

“Cintaku sudah DATAR” suara Angga tiba – tiba mengecil karena ia berbisik tepat di telingaku.

Yang aku bisa katakana saat itu, “Aku butuh adaptasi agar siap kehilangan kamu dari sisi ku.”

Angga tiba – tiba meremas telapak tanganku dan mengatakan “Aku akan membantu mu menerima kenyataan kalu aku bukanlah lelaki yang kamu harapankan. Aku selalu ada buat kamu.”

Kita berpisah dihalaman rumah, kaki lemas ini aku paksa berjalan menuju kamar di lantai dua dan mulai menangis di balik selimut. Malam yang melarutkan letihku dengan rasa kesal, aneh, dan bingung yang menyelimutiku di pukul 02:00 dini hari."


Gue berhenti menelusuri paragraph ke lima, karena pinggiran mata sudah mulai berair. Disisi otak terselip kembali adegan di cerita ini begitu jelas, lebih jelas dari apa yang gue tulis di cerpen ini. Gue yakin yang membaca cerpen ini juga akan mengasihani si cewek, dan membenci si cowok karena memutuskan hubungan secara tidak logis. Gue gak sanggup untuk melanjutkan cerpen yang gue tulis berdasarkan pengalaman pribadi itu. *ambil tissue*

Satu hal yang gue inget kalu mantan gue pernah bilang, ‘Pria banyak cinta, tapi ketika dia berani berkomintmen, maka ia telah berhasil menemukan satu cinta yang dicari.” Dan cinta yang diincar mantan gue gak ada di ‘Gue’ rupanya, dia tak meyakini kalu gue adalah cinta sejatinya. *hikss… hikss…*

Cerita 14 tangkai mawar merah muda yang gue tulis bener – bener sama dengan cerita pribadi gue sendiri. Dia mengakhiri hubungan percintaan sama dengan halnya ketika ia memulainya. Memeberi mawar yang sama warnanya, walaupun yang terakhir berisi 14 tangkai mawar yang mengartikan kalu 14 bulan lebih 14 hari kita bersama. Sifat romatis seperti itu yang selalu gue kangenin. Cinta emang rumit kalu dipikirkan secara logika, tapi kalu dirasakan pake hati akan berbeda kerumitannya.

Mmmm… menyedihkan menyimpan kenangan terakhir dari sang mantan, walau hanya berupa bouquet mawar yang sudah kering dengan kulit mawar yang menghitam.

Gue coba melanjutkan membaca sisa paragraph terakhir. Cuma senyuman yang bisa tersirat di wajah setelah membaca kalimat ini, “Cinta akan menemukan siapa yang pantas untuk bersama… ” Gue rasa itu benar, walaupun gue bukan orang yang mengerti dengan seberapa besarkah porsi mencintai lelaki.

-selesai-

#9 Cerpen Update

  • Wednesday, 2 June 2010
  • Posted by Ivan Rahmadiawan
  • Ngumpul di

Akhir bulan iseng nulis cerpen lagi, dan berakhir dengan Senyum selebar danau Toba. Aku suka cerpen yang ini karena lebih pure dan ngalir dengan sendirinya saat nulis. Gabungan fiksi dan nyata yang sudah berhasil bikin aku menghelai nafas sepanjang jalan tol ketika baca endingnya. (monolog aja terus. Heheh) So, buat kamu yang penasaran silahkan menikmati karya terbaruku… Thx

“Hanya Sebatas Ini”

Cewek yang lagi gue deketin saat ini akhirnya bersedia untuk bantuin Projek iseng gue. Sepekan yang lalu kita sepakat untuk membuat “Blog remaja” bareng yang akan menampung liputan acara anak muda. Dia yang aktif di “jurnalistik sekolah” akan lebih aktif lagi untuk mengerjakan projek online ini, sedangkan gue akan lebih fokus untuk menulis liputan dari Team Tita. Team ?? Yahh, Tita punya tim untuk mengumpulakn materi, sedangkan gue sebagai Owner blog itu dan penulis juga. Proposal mini yang gue buat sebanyak 6 halaman juga sudah gue sebar lewat email, karena kita akan kerja online untuk menghemat waktu.

Sehari kemudia Tita ngirim SMS “Rasya, kita harus ketemuan untuk ngebahas blog itu.” Dengan semangt gue klik Replay “Yah, gimana kalu hari minggu pagi ??? sekalian kita jogging bareng. Gimana ??? mau kan ???” Hanya sedetik Tita membalas, “Boleh, ketemuan di Sunday market yah??”

“Asikkkk, akhirnya gue bisa ketemuan sama Tita juga….” Umpatan bahagia menggelegar seantero kamar kost karena pertemuan perdana.

****

Sunday Market,

Gue yang sampai duluan langsung menghampiri Tita yang datang dengan sepeda sport berwarna hitam. Dengan celana traning pendek warna krem, dan jaket Adidas lengan panjang dengan warna senada bikin gue melotot. “Anjrit, Tita lebih cantik dari profil pic yang sudah gue save di laptop. Kaki jenjang yang mulus dan bersih bikin lutut gue lemes.” batin gue sudah meracau keluar angkasa.

“Heyy…” sapanya sambil menepuk pundak gue.

Terposa sama gebetan beberapa detik bikin keringet siap mengalir ke pipa PDAM…. Cuhhhhyysss…. *najis*

Akhirnya mata gue bisa di kedipin juga setelah melotot mesum, setelah merasakan tepukan lembut tangan Tita, buru – buru gue jawab “selamat pagi Tita, Kenapa kesini pake sepeda ??” gue basa basi dan penasaran juga sih.

“Yah elahh, rumah gue dekat aja kok dari sini… Gue lebih enak pake sepeda sih kalu jaraknya deket.” Jawabnya kalem.

Selama Tita menjelaskan rumah, sepeda, dan pertanya ini itu, gue cuma bisa pandangi mata sama gerakkan bibir tipisnya, dua organ tubuh yang bikin gue meleran seketika. “Ohhh, bibirnya kaya kiwi, lembut dan aughhh” entah apa yang gue bayangi…

Sangking keasikan ngobrol, kita malah lupa kalu niat awal mau lari pagi. Tita yang lebih semangat untuk Ngebahas projek baru bikin gue makin rajin ngeliatin gaya dia bicara. (bibir yang beradu dengan lidah dan gigi putihnya, bikin gue lebih banyak Istighfar)

“Res, kita jadi lari nggak sih ?? kok keasikkan ngobrol gini??? Tita teringat akan janji gue untuk jogging.

Dengan muka lesuh gue jawab, “Hahahha, iyaaa, tapi gue belum sempat sarapan. Giman kalu cari sarapan dulu baru jogging???” dengan tangan mengusap perut yang isisnya cacing semua. *najis*

“Haa ?? Bilang aja laper ??? Mending kita cari sarapan aja, sambil ngbahas projek kita lagi ???” semangat Tita untuk Blog itu sangat berkibar sekali. Salut.

Lucu sih, niat untuk olahraga, malah hilang seketika gara – gara gue sudah pasang muka “kelaparan”. Karena jaraknya tak terlalu jauh, kita jalan kaki untuk mencapai booth makanan. Jarum jam di tangan kanan gue menunjukkan baru pukul 7 pagi, tapi warga ibukota sudah bergerombol membawa lambung mereka yang kelaparan di depan kedai bubur ayam.

“Res, rame banget nieh bubur ayamnya, cari yang lain yok?”

“Gimana kalu Burger??” gue iseng kasih saran.

*10 menit kemudian*, Oh No… Sepertinya gue perlu brosur diacara Sunday Market ini, sepanjang jalan tak terlihat ada yang menjual Burger *ahhh… sinar cerah muka Tita bikin gue kelenger sihhh*, cuma ada kedai batagor yang terlihat lengah dari serbuan massa. Dari pada kelaparan kita putusin buat sarapan batagor pak Tagor… (pedagang yang sok eksis nieh)

“Batagornya dua porsi bang.” Tita memesan ke pedagang.

*Kenapa nggak satu porsi ?? kan kita bisa sepiring berdua.*

Entah kenapa gue lebih respect dengan Tita di dunia nyata ketimbang dunia maya, dia lebih kalem dan dewasa. Untuk pertama kali sarapan dengan (gebetan) teman baru yang ajaib, gak ada jaim – jaiman malah seperti sudah mengenal lama. Diselingin ngebahas Blog baru itu, Tita banyak cerita tenang Proposal mini yang gue buat. Dari Tim dia juga sudah mensetujui, kalu liputan mereka akan menjadi materi pertama yang akan gue garap. Ahhh, gue sudah kebayang kalu Blog ini bisa jadi pusat perhatian anak muda untuk tetap berkreasi dan terus mengasah bakat mereka, karena gue yakin kalu remaja Indonesia sangatlah luar biasa.

Sialnya, pertemuan perdana harus di akhiri tepat di jam 9, karena Tita punya agenda lain. Tapi kita janji akan buat pertemuan berikutnya.

Pukul11:00, -KAMAR KOSTAN-

Sambil ngerjain tugas kuliah, gue iseng buka file yang isinya foto – foto Tita. “Yah Tuhan, gue makin suka sama nieh bocah.” Teriak gue sok tarzan yang lagi rindu pelukkan dari Jane.

Dari belakang, bebek super dekil (teman kost gue) langsung ngecengin gitu, “Cieee, yang lagi demen sama daun muda.” Goda sibebek yang punya rambut kribo.

Gue tutupin foto Tita peke bantal (bego yahh??) “Anjrit, lo kira gue om – om apa ??? Rese lo bek..” Dan akhirnya bantal tak berdosa itu gue lempar ke muka bebek dan nyeret dia keluar kamar tanpa belas kasihan.

****

Gue lirik jam didinding, ada dua cicak yang lagi sundul – sundulan. Sudah pukul 8 petang, berarti sudah setengah hari gue ngbantai tugas kuliah. Seketika pikiran gue kembali ke Tita, susah untuk ditulis rasanya gimana. “Arghhh, mau nggak mau gue harus curhat juga dah sama si bebek kribo…”

FYI : Bebek Dekil Kribo adalah sosok pria bertubuh Buto Ijo. Tak ada makanan maka dia akan sekarat, ini sangat berbahaya untuk wilayah kostan gue.

Berbekal mantel baja dan baju anti peluru (salah, ehhh), gue sengaja bawa sesajen, cuma dua burger, dan teh botol sosrot. Pasang muka secerah pelangi, gue sambangi tuh kamar bututnya yang persisi di pojok kanan. Sekali masuk bawaannyah pasti mau muntah, kamarnya tuh bau apek!!!

“Ehh.. Buset dah, iler lo dah banjir nieh.” Teriak gue waktu liat Bebek lemes di atas kasur.

Iseng – iseng gue sumpel burger, ehh…. Malah dikunyah “Dasar kebo edannn”.

Basa – basi bentar tanya tugas kuliah terus gue langsung ngadu nasib percintaan gue. Posisinya sudah kaya di dukun cing, gue duduk di lantai, sedangkan bebek asik ngelahap burger yang belum gue bayar di singgasananya…. Pengen rasanya pake jas hujan, bebek ngomong muncrat gitu, hujan lokal mendadak lebih menyakitkan ketimbang hujan interlokal.

15 menit mengadu nasib di tempat yang salah, bebek kribo bilang “Kalu lo yakin sama tuh cewek, yah lanjutkan aja. Gue rasa lo sama dia juga sudah saling nyaman.” Sebenarnyah jawaban dia standar banget, tapi gue hargai lah *prettt*.

Dari luar kost – kostan, terdengar suara penjual burger.

“Mas.. tadi burger dua belum dibayar..” niat busuk gue pun meliar.

“Maaf bang, yang pesen itu, si kriboo … Noh, dia lagi nonton tipi..” tanpa muka berdosa gue tunjuk bebek yang lagi asik ngunyah Burger terakhir.

Gue langsung ngacir ke kamar, sudah ketebak murkanya bebek tau kalu dia harus bayar sendiri burgernya…

****

Projek Blog gue bareng Tita sudah berjalan tiga pekan, dan kita kebanjiran order dari sekolah, kampus, dan beberapa komunitas remaja yang ingin mempromosiin acara mereka diblog gue. Selama ngerjain beberapa tulisan dan liputan yang dikirin Team via email entah mengapa semangat gue makin memuncak ketika melihat respon pembaca terhadap blog ini. Tapi gue sempat berencana untuk komersilin blog itu.

Ketika gue coba rundingin ke Team, tapi mereka Nggak sepakat kalu blog itu di komerselin dengan ragam alasan. Gue coba jelasin kalu waktu yang gue punya gak mungkin bisa ngerjain secara free. Tita yang mulai ngertiin posisi gue mencoba jadi penengah.

“Guys, kita tau Rasya ngerjain porsinya hanya sebatas waktu luang. Sisanya dia akan fokus ke tugas kuliah, sedangkan permintaan yang masuk makin numpuk, gue setuju kalu semua klien harus mengeluarkan biaya kalu ingin promo.” Semua tim langsung luluh seketika dan kita langsung buat plan ini itu untuk terus memajukan blog ini. “Merdeka” batin gue berkobarrrr semangat.

Rasanya senang sekali bisa ‘bekerja’ di balik layar dari sebuah Blog yang sedang Hits, karya tulis gue di bayar dengan respon yang tak kira. Gue sama Tita juga makin semangat belajar jurnalistik lebih baik lagi karena sering di undang blogger senior untuk seminar bareng. Feedback dari usaha semi Advertisting ini tentu makin nambah teman dan punya penghasilan sendiri. Kesuksesan blog ini gak akan berhasil tanpa rekan kerja yang produktif, mereka adalah satu jiwa yang berhasil mengangkat Projek iseng ini menjadi satu pekerjaan yang mengasikkan. Kerja sama dengan remaja sekolah yang selau memiliki ide segar tentu akan menambah kreatifitas gue. Dan, Thank to Tita. Yang selau setia mendampingi gue di setiap ada materi baru.

Eittttt…. Selama sibuk di Projek ini setidaknya bisa bikin gue sadar diri kalu Tita sudah punya Rio. Iyah, ternyata gue mencintai orang yang sudah memiliki status. Sebelum kenal sama Gue, Tita sudah menjalin kasih dengan Rio. Cowok yang melanjutkan pendidikkannya diluar kota. Gue cukup berjiwa besar untuk situasi seperti ini, karena cinta dan kasih sayang gue ke Tita sudah teralihkan sebagai rekan kerja di www.RandT.com !!!

-SELESAI-